Sahabat Sejati Aurel
Karya : Tsabita Al Asshifa Hadi Kusuma
Lily memiliki seorang sahabat bernama Aurel.
Ia mengenal Aurel sejak kelas tiga SD. Persahabatan mereka dimulai semenjak
kedua orangtua Aurel meninggal dunia karena kecelakaan maut di jalan raya. Sejak
saat itu, semangat hidup Aurel seolah menguap begitu saja. Lily-lah
satu-satunya orang yang mampu membangkitkan semangat hidup Aurel kembali.
Namun, kehidupan Lily berbeda 180° dari Aurel. Ayah Lily adalah seorang
kuli bangunan, sementara ibunya adalah seorang pembantu rumah tangga yang pulang
ke rumah hanya selama dua kali seminggu. Hal itu membuat Lily tumbuh menjadi
seorang gadis yang baik, sopan, dan soleha.
Sementara, Aurel adalah anak dari seorang pengusaha yang suksesnya
mencapai tingkat internasional. Semenjak kedua orangtua Aurel meninggal, alih
perusahaan digantikan oleh sahabat ayahnya yang langsung menjadikan Aurel
sebagai anak angkatnya. Namun, kehidupan Aurel yang bagaikan surga tidak
membuat ia tumbuh menjadi gadis yang baik. Ia lebih suka berfoya-foya dan
memoles wajah daripada memikirkan masa depannya. Meski sering masuk ke dalam
peringkat sepuluh besar, itu pun bukan kemampuan dirinya sendiri, melainkan bantuan
contekan dari Lily.
Lily
sudah sering menegur dan menasehatinya agar ia mencoba untuk berusaha dengan
kemampuan diri sendiri. Tapi, Aurel selalu mengabaikannya.
Prilaku Aurel masih belum berubah hingga mereka SMA. Menyadari prilaku
Aurel yang tak pernah berubah, Lily hanya bisa bersabar dan berdoa agar suatu
hari nanti, Aurel bisa meniru prilakunya.
***
Aurel tengah menyaksikan pertunjukan randai di
sekolahnya, ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia pun berbalik dan
mendapati Lily tengah menatapnya dengan senyum.
Aurel balas tersenyum. “Ada apa, Li?”
“Aurel, kita ada tugas kelompok, lho. Pulang sekolah ini, bisa nggak
kita selesaikan bersama?” tanya Lily, mengelap peluh yang menitik di keningnya
dengan tisu. Cuaca panas pada siang ini membuat dirinya seolah bermandikan
keringat.
“Ng
... Li, sepulang sekolah ini, aku ada janji sama temen, nih. Kamu aja yang
buat, gimana?” pinta Aurel.
“Kalau aku sendiri yang buat, itu namanya tugas pribadi, dong. Bagaimana
kalau sore nanti saja kita kerjakan bersama?” usul Lily.
“Sore? Palingan aku baru pulang, dan pasti capek banget untuk pergi ke
rumah kamu. Bagaimana kalau kamu saja yang pergi ke rumah aku?” Aurel melirik
jam tangannya.
“Baiklah. Sore nanti, aku akan pergi ke rumahmu
....” sanggup Lily, menghela nafas panjang.
“Oke!” Aurel tersenyum lebar.
Setelah
itu, tatapan keduanya kembali tertuju pada pertunjukkan randai yang masih berlangsung
di siang yang panas itu.
***
Jam tangan Lily sudah menunjukkan pukul
sembilan malam. Namun, Aurel belum juga pulang ke rumahnya. Padahal, sudah
sejak pukul empat sore tadi Lily duduk di sofa ruang tamu rumah Aurel, menunggu
Aurel pulang. Tapi hingga kini, batang hidung sahabatnya itu belum juga tampak
olehnya.
Tante
Hanny—ibu angkat Aurel—yang melihat hal itu, segera menghampiri Lily. “Lily,
apa sebaiknya kamu pulang saja? Sudah jam sembilan malam, lho. Nanti orangtua
kamu nyariin.”
“Sebentar lagi saja, Tante. Orangtua saya juga sudah tau kok, kalau saya
pergi ke sini,” tolak Lily, sopan.
“Tante
jadi nggak enak sama ka—”
BRAK!
Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara pintu rumah yang dibuka dengan
kasar, dan tampaklah Aurel—dengan langkah yang sempoyongan—berjalan masuk.
“Aurel?!” teriak Lily dan Tante Hanny, bersamaan.
“Oh
ibuku ... hik ... engkaulah wanita ... hik ... yang kucinta ... hik ... selama
hidupku ... hik!” nyanyi Aurel, dengan cegukan. Ia tampak mabuk berat.
“Aurel! Kamu mabuk?!” Lily tersentak kaget, menyadari Aurel yang mulai
pandai mabuk-mabukan. Ia sungguh tak menyangka, Aurel sudah tau dengan yang
namanya mabuk-mabukan.
“Lily, sebenarnya hampir tiap hari Aurel mabuk-mabukan seperti ini. Tapi
dia melarang Tante untuk memberitahumu,” ujar Tante Hanny, berusaha menopang
tubuh Aurel yang sempoyongan dengan lengannya.
“Kenapa Tante nggak melarangnya?!” tanya Lily, gemas dengan sikap Tante
Hanny yang membiarkan Aurel mabuk-mabukan.
“Tante sudah berusaha, Li. Tapi dia mengabaikan larangan Tante.
Tante nggak bisa berbuat apa-apa lagi,”
jawab Tante Hanny, pasrah. “Sekarang, sebaiknya kamu bantu Tante untuk
mengangkat tubuh Aurel ke kamarnya, ya?”
Lily
mengangguk, lalu membantu Tante Hanny untuk mengangkat tubuh Aurel ke kamarnya.
***
Esoknya,
sepulang sekolah ...
“Li,
apa kemarin kamu ke rumahku?” Aurel menghampiri Lily yang tengah merapikan isi
laci mejanya.
Lily
mengangkat kepalanya, menatap orang yang bertanya padanya. Begitu melihat
Aurel, ia segera berdiri. “Rel, jawab aku. Sejak kapan kamu mabuk-mabukan
seperti tadi malam?” tanya Lily, tak meng-indahkan pertanyaan Aurel.
Mata
Aurel membulat mendengarnya. “Emangnya kenapa?”
“Karena
aku ingin, kamu merubah sikap kamu itu, Rel. Itu akan merugikan diri kamu sendiri.
Rel, aku nggak akan rela kalau kamu sampai menyia-nyiakan hidup kamu yang masih
panjang hanya gara-gara kebiasaan burukmu itu,” jawab Lily, tegas.
Aurel
langsung mendengus kesal. “Tuh, kan. Nasihat lagi, nasihat lagi. Emangnya apa
masalahmu dengan hal itu? Apa yang kulakukan selama ini, nggak akan merugikan
kamu kan?” balas Aurel, sinis.
Lily
terkejut mendengar ucapan sinis dari Aurel. Namun, ia berusaha untuk berkata
lembut. “Aurel, aku hanya menasehati kamu agar memikirkan masa depanmu. Coba
kamu bayangkan, betapa sedihnya orangtua kamu di alam sana melihat putri mereka
yang selalu pulang malam dalam keadaan mabuk. Apa kamu nggak merasa bersalah
pada mereka yang sudah membesarkan kamu?”
“Mereka nggak membesarkan aku, tuh. Sahabat mereka yang membesarkanku!”
Aurel memutar bola matanya.
“Aurel, ini semua rencana Allah. Tidak ada yang tau apa yang akan
terjadi pada kita semua. Sekarang, buka matamu, Rel. Pikirkan masa depanmu.
Jauhi sikap burukmu dan bergaul dengan teman yang baik,” papar Lily.
BRAK!
Tiba-tiba, Aurel memukul meja dengan keras, membuat Lily tersentak
kaget. “Li! Emang apa salahnya, sih?! Apakah hal itu akan merugikan kamu? Nggak
kan? Kalau begitu, berhentilah menasehatiku, dan urus dirimu sendiri. Lagipula,
untuk apa sih kamu mengatur-atur hidup aku? Lily, ini hidupku! Dan aku yang
paling berhak mengaturnya!” bentak Aurel, kesal.
“Aurel,
karena aku sahabatmu, Rel. Dan aku nggak mau kalau sampai kamu—”
“Sahabat? Selama ini aku nggak pernah merasa punya sahabat, tuh ...”
sela Aurel, dingin.
Lily
berusaha menahan emosinya yang akan meledak seperti gunung berapi teraktif di
dunia. “Karena kamu nggak tau, apa itu sahabat! Kamu hanya memikirkan hidupmu!
Kamu nggak pernah mikirin nasihat aku yang akan merubah hidupmu menjadi lebih
baik!”
“Iya! Aku memang nggak tau apa itu sahabat! Dan untuk apa kamu
mencemaskanku? Lagipula, kalau nantinya aku yang akan rugi, kamu juga nggak
bakal ngerasain hal itu. Sudahlah, kamu nggak usah sok menasihati aku lagi,
deh! Ini hidupku, dan aku-lah yang mengaturnya! Jadi, berhentilah menasehati
atau menegurku, karena aku nggak akan pernah berubah!” kata Aurel, dengan nada
tinggi. Ia segera berlari keluar kelas.
Lily
berlari mengejar Aurel. “Aurel! Tunggu!”
Tapi
Aurel tak menghiraukan panggilan Lily. Ia terus berlari menjauhi Lily, hingga
akhirnya ia tiba di samping mobilnya yang terparkir di pelataran parkir sekolah.
“Rel! Tunggu!” panggil Lily, lagi. Ia menahan tangan Aurel yang hendak
membuka pintu mobil.
“Li!
Kamu nggak usah membahas masalah yang tadi lagi, deh! Aku udah muak
mendengarnya!” Aurel berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Lily.
“Rel, kamu nggak boleh seperti ini terus. Aku tau, bahwa ini hidupmu dan
kamu yang paling berhak mengaturnya. Tapi kamu mengaturnya sudah kelewat batas,
Rel! Tentu sebagai sahabat, sudah seharusnya aku campur tangan. Aku hanya nggak
ingin kamu menyesal disaat semuanya sudah terlambat!” kata Lily.
“LEPAS!” pekik Aurel, menarik tangannya dari tangan Lily dengan kasar. “Lily!
Aku tau kamu itu sahabat aku. Tapi, sahabat yang dulu aku kenal, bukanlah
sahabat yang sok ngatur-ngatur aku seperti ini!” Aurel menatap Lily dengan
tatapan membunuh.
“Aurel! Kamu yang sebenarnya sudah berubah! Aurel yang dulu aku kenal,
bukanlah Aurel yang suka pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Dia juga nggak
pernah membantah seluruh pesan baik dari sahabatnya sendiri,” sanggah Lily.
“Dulu, aku memang menuruti semua nasihat kamu, tapi sekarang aku udah
muak, Li! Kalau kamu masih menginginkan Aurel yang dulu, sebaiknya kamu mencari
sahabat yang baru aja, deh! Jangan cari aku lagi. Mulai detik ini, aku bukanlah
sahabat kamu lagi!” kata Aurel, dingin. Ia segera masuk ke dalam mobilnya.
“Aurel! Aurel!” Lily mengetuk-ngetuk kaca mobil Aurel.
Tapi
Aurel tak memedulikan panggilan Lily. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan
langsung me-mindahkan persneling ke gigi 3, sebelum akhirnya ia sudah melaju
kencang meninggalkan Lily yang ham-pir menangis.
Melihat Aurel pergi, Lily segera berlari menuju motornya (yang merupakan
hadiah ulang tahunnya dari Aurel), dan melesat mengikuti mobil Aurel.
Lily
mengikuti mobil Aurel, dengan pelan. Jalan raya yang lumayan lengang, memudahkan
Lily untuk mengikuti mobil Aurel. Ia tak peduli apakah Aurel tau bahwa ia
mengikutinya atau tidak. Yang penting, sekarang ia hanya ingin menuntaskan
pertengkaran mereka hari ini juga. Tapi tampaknya Aurel tidak tau—atau mungkin
sudah tau tapi tak memedulikannya, karena kecepatan laju mobil Aurel
standar-standar saja. Karena, jika ia tidak tau—atau merasa kurang nyaman
dengan Lily yang mengikutinya, ia akan mempercepat laju mobilnya, berusaha
menghindar dari Lily.
CIIITT! BRAK!
Tiba-tiba—entah
bagaimana kejadiannya, karena pikiran Lily tengah menerawang—Lily melihat Honda
City milik Aurel menabrak tiang listrik di tepi jalan. Bagian depan mobil itu
terlihat penyok dan berasap.
Lily
segera menepikan motornya di samping mobil Aurel yang menabrak tiang.
Aurel keluar dari mobilnya dengan kening yang berdarah dan berjalan
dengan limbung. Kepalanya te-rasa sangat pusing campur sakit karena menghantam
setir mobil.
“Aurel! Kamu nggak pa-pa?!” Lily berlari menghampiri Aurel dan memapah
gadis itu untuk berjalan.
Aurel mengerang pelan. “Ngapain kamu?! Sudahlah, jangan pedulikan aku.
Emangnya kamu siapa, hah?”
Lily
tak menggubris erangan Aurel. “Aurel, kayaknya kamu harus periksa kepala kamu
ke rumah sakit, deh. Jalan kamu udah sempoyongan gini,” Lily menyentuh kening
Aurel yang penuh darah.
“AAH!” Aurel menepis tangan Lily dengan kasar. “Sudah kubilang, jangan
pedulikan aku lagi! Aku bukan sahabat kamu, Lily!” hardik Aurel, menatap Lily
dengan tajam. Rasa sakit di kepalanya seolah hilang, berganti dengan gejolak
emosi.
“Aurel ...”
“CUKUP! Sekarang, sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku,
atau jangan ganggu ke-hidupan aku lagi! AKU BENCI SAMA KAMU, LI!” pekik Aurel.
Ia berjalan limbung menyebrangi jalan, tanpa memedulikan sebuah pick-up hitam tengah melaju kencang ke
arahnya.
Lily
terbelalak. “AUREL! AWAASS!” sorak Lily. Ia berlari ke arah Aurel dan mendorong
tubuh gadis itu. Namun, Lily tak dapat berbuat apa-apa lagi, ketika menyadari
bahwa mobil pick-up itu kini melaju
kencang ke arahnya.
Aurel yang terjatuh, membelalak melihat Lily yang kini menjadi sasaran
mobil pick-up hitam tersebut. Ingin
rasanya ia menolong Lily. Tapi, tubuhnya seolah tak mampu bergerak dan akhirnya
ia hanya bisa melihat kejadian tersebut.
BRUK!
“LILY!”
***
Sudah hampir tiga hari Lily tergolek di
ranjang rumah sakit. Kecelakaan yang dialaminya membuat dirinya koma dan tak
sadarkan diri selama tiga hari.
Kini, ia membuka matanya perlahan. Kesadaran telah mulai merayapi
tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat, adalah seseorang yang tengah terlelap
dalam keadaan duduk di sampingnya. Ia tersenyum.
“Aurel ...?” panggil Lily, lemah.
Aurel tersentak kaget mendengar suara Lily. Ia langsung terbangun, dan
membelalak melihat Lily yang sudah sadar. “Lily! Kamu sudah sadar?!”
Lily
mengangguk lemah.
“Lily, maafin aku, Li. Maafin aku!” sesal Aurel. Air matanya tumpah
begitu mengingat prilakunya pada Lily selama ini.
Hati
Lily menghangat mendengarnya. Ia tersenyum dan mengangguk pelan. “Sepertinya
hari sudah larut malam. Oh ya, kamu sendirian?”
Aurel mengangguk. “Lily, kita sahabatan lagi ya, Li. Aku janji bakal
berubah, Li. Aku janji, aku bakal berubah menjadi gadis yang baik. Aku janji!”
Lily
mengangguk. Ia terharu mendengar janji Aurel. Tiba-tiba, tatapan Lily jatuh
pada sosok yang tengah memperhatikannya dari sudut ruangan. Senyum Lily pudar
seketika.
“Yasudah, sekarang kamu istirahat saja, ya. Kamu sudah tiga hari nggak
sadar, Li!” kata Aurel.
Lily
mengalihkan pandangannya pada wajah Aurel. “Kamu juga.”
“Ya!” angguk Aurel, lalu melipat kedua tangannya di tepi ranjang Lily,
dan membenamkan wajahnya di atas lipatan tangannya tersebut.
Begitu
melihat Aurel tertidur, Lily menatap sosok yang berdiri di sudut ruangan
tersebut. Lalu, ia kem-bali menatap Aurel. Ia mulai menyadari sesuatu.
‘Aurel ... aku akan menjadi sahabat kamu
selamanya, Rel. Tapi maaf ..., sepertinya aku nggak bisa lagi menemani
hari-hari kamu di sekolah, nggak bisa lagi membantumu mengerjakan tugas, nggak
bisa lagi menasehatimu, dan nggak bisa lagi melihatmu berubah menjadi gadis
yang baik. Maafkan aku, Aurel. Aku nggak sekuat yang kamu kira ....’ kata Lily,
dalam hati. Ia berusaha menahan air matanya.
Seberkas bayangan putih tiba-tiba meleburkan diri pada sosok yang sedari
tadi menatap Lily dari sudut ruangan. Sosok bayangan putih tersebut kini mulai
berjalan ke arah Lily yang menatapnya.
Lily
kembali mengalihkan pandangannya ke arah Aurel. ‘Selamat tinggal, Aurel ...’ ucap Lily, sebelum akhirnya ia
tersenyum pada bayangan putih yang menghampirinya, lalu memejamkan matanya
dengan perlahan, membuat air mata yang sedari tadi ia tahan, menetes di
pipinya.
***
Aurel menangis tersedu-sedu menatap pusara di
hadapannya. Tatapannya jatuh pada nama Lily yang ter-ukir pada batu nisan
pusara tersebut.
Jenazah Lily baru saja dikebumikan beberapa menit yang lalu. Kini, semua
orang telah meninggalkan area pemakaman. Tinggal Aurel yang jatuh terduduk di
samping pusara Lily.
“Li!
Lily ... hiks ... kenapa kamu harus pergi? Hiks ... kenapa kamu malah pergi?
Hiks ...” tanya Aurel, pilu. Air mata berjatuhan dengan deras di pipinya.
“Bukannya kita akan sahabatan lagi, Li? Tapi kenapa kamu malah ninggalin aku?
Hiks ...” isak Aurel. Ia mengelus batu nisan pusara Lily dengan lembut.
‘Terima kasih sudah menyelamatkan aku waktu
itu, Li. Tanpamu, mungkin aku sudah tiba di neraka saat ini. Aku memang penuh
dosa, Li. Kamu-lah orang yang mampu membuatku berubah, seperti kamu membangkitkan
semangat hidupku dulu. Kamu memang sahabat sejatiku, Li. Aku nggak akan pernah
melupakanmu. Kamu sudah berhasil membuatku berubah seperti sekarang. Tapi maaf
..., perjuanganmu untuk membuatku berubah telah membuatmu mempertaruhkan
nyawamu. Maafin aku, Li. Selamanya, kamu akan menjadi sahabat sejatiku ....’
batin Aurel.
Setelah berdoa selama beberapa menit di samping kuburan Lily, Aurel
mulai berdiri dengan tatapan yang masih melekat pada batu nisan kuburan Lily.
‘Selamat jalan, Lily ... kuharap kamu tenang
di alam sana dan bertemu dengan kedua orangtuaku. Katakan pada mereka, aku akan
berubah menjadi seorang gadis baik yang mereka harapkan ...’ kata Aurel, dalam
hati.
Ia
hendak berjalan meninggalkan pusara Lily, ketika tatapannya beradu pada sebuah
sosok yang berdiri di hadapan sebuah pohon besar—tak jauh dari tempatnya
berdiri. Sosok yang tak lain adalah bayangan Lily itu tersenyum puas pada
Aurel, sembari mengangkat kedua jempolnya.
Aurel balas tersenyum dan dalam satu kerjapan mata, bayangan Lily telah hilang
dari pandangannya. Aurel kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang, meninggalkan
seseorang yang tengah tenang di-peluk bumi.
*The End*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar