Sabtu, 15 Juni 2013

Sahabat Sejati Aurel
Karya : Tsabita Al Asshifa Hadi Kusuma


Lily memiliki seorang sahabat bernama Aurel. Ia mengenal Aurel sejak kelas tiga SD. Persahabatan mereka dimulai semenjak kedua orangtua Aurel meninggal dunia karena kecelakaan maut di jalan raya. Sejak saat itu, semangat hidup Aurel seolah menguap begitu saja. Lily-lah satu-satunya orang yang mampu membangkitkan semangat hidup Aurel kembali.
    Namun, kehidupan Lily berbeda 180° dari Aurel. Ayah Lily adalah seorang kuli bangunan, sementara ibunya adalah seorang pembantu rumah tangga yang pulang ke rumah hanya selama dua kali seminggu. Hal itu membuat Lily tumbuh menjadi seorang gadis yang baik, sopan, dan soleha.
    Sementara, Aurel adalah anak dari seorang pengusaha yang suksesnya mencapai tingkat internasional. Semenjak kedua orangtua Aurel meninggal, alih perusahaan digantikan oleh sahabat ayahnya yang langsung menjadikan Aurel sebagai anak angkatnya. Namun, kehidupan Aurel yang bagaikan surga tidak membuat ia tumbuh menjadi gadis yang baik. Ia lebih suka berfoya-foya dan memoles wajah daripada memikirkan masa depannya. Meski sering masuk ke dalam peringkat sepuluh besar, itu pun bukan kemampuan dirinya sendiri, melainkan bantuan contekan dari Lily.
    Lily sudah sering menegur dan menasehatinya agar ia mencoba untuk berusaha dengan kemampuan diri sendiri. Tapi, Aurel selalu mengabaikannya.
    Prilaku Aurel masih belum berubah hingga mereka SMA. Menyadari prilaku Aurel yang tak pernah berubah, Lily hanya bisa bersabar dan berdoa agar suatu hari nanti, Aurel bisa meniru prilakunya.
***
Aurel tengah menyaksikan pertunjukan randai di sekolahnya, ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia pun berbalik dan mendapati Lily tengah menatapnya dengan senyum.
    Aurel balas tersenyum. “Ada apa, Li?”
    “Aurel, kita ada tugas kelompok, lho. Pulang sekolah ini, bisa nggak kita selesaikan bersama?” tanya Lily, mengelap peluh yang menitik di keningnya dengan tisu. Cuaca panas pada siang ini membuat dirinya seolah bermandikan keringat.
    “Ng ... Li, sepulang sekolah ini, aku ada janji sama temen, nih. Kamu aja yang buat, gimana?” pinta Aurel.
    “Kalau aku sendiri yang buat, itu namanya tugas pribadi, dong. Bagaimana kalau sore nanti saja kita kerjakan bersama?” usul Lily.
    “Sore? Palingan aku baru pulang, dan pasti capek banget untuk pergi ke rumah kamu. Bagaimana kalau kamu saja yang pergi ke rumah aku?” Aurel melirik jam tangannya.
    “Baiklah. Sore nanti, aku akan pergi ke rumahmu ....” sanggup Lily, menghela nafas panjang.
    “Oke!” Aurel tersenyum lebar.
    Setelah itu, tatapan keduanya kembali tertuju pada pertunjukkan randai yang masih berlangsung di siang yang panas itu.
***
Jam tangan Lily sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, Aurel belum juga pulang ke rumahnya. Padahal, sudah sejak pukul empat sore tadi Lily duduk di sofa ruang tamu rumah Aurel, menunggu Aurel pulang. Tapi hingga kini, batang hidung sahabatnya itu belum juga tampak olehnya.
    Tante Hanny—ibu angkat Aurel—yang melihat hal itu, segera menghampiri Lily. “Lily, apa sebaiknya kamu pulang saja? Sudah jam sembilan malam, lho. Nanti orangtua kamu nyariin.”
    “Sebentar lagi saja, Tante. Orangtua saya juga sudah tau kok, kalau saya pergi ke sini,” tolak Lily, sopan.
    “Tante jadi nggak enak sama ka
    BRAK!
    Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara pintu rumah yang dibuka dengan kasar, dan tampaklah Aurel—dengan langkah yang sempoyongan—berjalan masuk.
      “Aurel?!” teriak Lily dan Tante Hanny, bersamaan.
    “Oh ibuku ... hik ... engkaulah wanita ... hik ... yang kucinta ... hik ... selama hidupku ... hik!” nyanyi Aurel, dengan cegukan. Ia tampak mabuk berat.
    “Aurel! Kamu mabuk?!” Lily tersentak kaget, menyadari Aurel yang mulai pandai mabuk-mabukan. Ia sungguh tak menyangka, Aurel sudah tau dengan yang namanya mabuk-mabukan.
    “Lily, sebenarnya hampir tiap hari Aurel mabuk-mabukan seperti ini. Tapi dia melarang Tante untuk memberitahumu,” ujar Tante Hanny, berusaha menopang tubuh Aurel yang sempoyongan dengan lengannya.
    “Kenapa Tante nggak melarangnya?!” tanya Lily, gemas dengan sikap Tante Hanny yang membiarkan Aurel mabuk-mabukan.
    “Tante sudah berusaha, Li. Tapi dia mengabaikan larangan Tante. Tante  nggak bisa berbuat apa-apa lagi,” jawab Tante Hanny, pasrah. “Sekarang, sebaiknya kamu bantu Tante untuk mengangkat tubuh Aurel ke kamarnya, ya?”
    Lily mengangguk, lalu membantu Tante Hanny untuk mengangkat tubuh Aurel ke kamarnya.
***
Esoknya, sepulang sekolah ...
    “Li, apa kemarin kamu ke rumahku?” Aurel menghampiri Lily yang tengah merapikan isi laci mejanya.
    Lily mengangkat kepalanya, menatap orang yang bertanya padanya. Begitu melihat Aurel, ia segera berdiri. “Rel, jawab aku. Sejak kapan kamu mabuk-mabukan seperti tadi malam?” tanya Lily, tak meng-indahkan pertanyaan Aurel.
    Mata Aurel membulat mendengarnya. “Emangnya kenapa?”
    “Karena aku ingin, kamu merubah sikap kamu itu, Rel. Itu akan merugikan diri kamu sendiri. Rel, aku nggak akan rela kalau kamu sampai menyia-nyiakan hidup kamu yang masih panjang hanya gara-gara kebiasaan burukmu itu,” jawab Lily, tegas.
    Aurel langsung mendengus kesal. “Tuh, kan. Nasihat lagi, nasihat lagi. Emangnya apa masalahmu dengan hal itu? Apa yang kulakukan selama ini, nggak akan merugikan kamu kan?” balas Aurel, sinis.
    Lily terkejut mendengar ucapan sinis dari Aurel. Namun, ia berusaha untuk berkata lembut. “Aurel, aku hanya menasehati kamu agar memikirkan masa depanmu. Coba kamu bayangkan, betapa sedihnya orangtua kamu di alam sana melihat putri mereka yang selalu pulang malam dalam keadaan mabuk. Apa kamu nggak merasa bersalah pada mereka yang sudah membesarkan kamu?”
    “Mereka nggak membesarkan aku, tuh. Sahabat mereka yang membesarkanku!” Aurel memutar bola matanya.
    “Aurel, ini semua rencana Allah. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi pada kita semua. Sekarang, buka matamu, Rel. Pikirkan masa depanmu. Jauhi sikap burukmu dan bergaul dengan teman yang baik,” papar Lily.
    BRAK!
    Tiba-tiba, Aurel memukul meja dengan keras, membuat Lily tersentak kaget. “Li! Emang apa salahnya, sih?! Apakah hal itu akan merugikan kamu? Nggak kan? Kalau begitu, berhentilah menasehatiku, dan urus dirimu sendiri. Lagipula, untuk apa sih kamu mengatur-atur hidup aku? Lily, ini hidupku! Dan aku yang paling berhak mengaturnya!” bentak Aurel, kesal.
    “Aurel, karena aku sahabatmu, Rel. Dan aku nggak mau kalau sampai kamu
    “Sahabat? Selama ini aku nggak pernah merasa punya sahabat, tuh ...” sela  Aurel, dingin.
    Lily berusaha menahan emosinya yang akan meledak seperti gunung berapi teraktif di dunia. “Karena kamu nggak tau, apa itu sahabat! Kamu hanya memikirkan hidupmu! Kamu nggak pernah mikirin nasihat aku yang akan merubah hidupmu menjadi lebih baik!”
    “Iya! Aku memang nggak tau apa itu sahabat! Dan untuk apa kamu mencemaskanku? Lagipula, kalau nantinya aku yang akan rugi, kamu juga nggak bakal ngerasain hal itu. Sudahlah, kamu nggak usah sok menasihati aku lagi, deh! Ini hidupku, dan aku-lah yang mengaturnya! Jadi, berhentilah menasehati atau menegurku, karena aku nggak akan pernah berubah!” kata Aurel, dengan nada tinggi. Ia segera berlari keluar kelas.
    Lily berlari mengejar Aurel. “Aurel! Tunggu!”
   Tapi Aurel tak menghiraukan panggilan Lily. Ia terus berlari menjauhi Lily, hingga akhirnya ia tiba di samping mobilnya yang terparkir di pelataran  parkir sekolah.
    “Rel! Tunggu!” panggil Lily, lagi. Ia menahan tangan Aurel yang hendak membuka pintu mobil.
    “Li! Kamu nggak usah membahas masalah yang tadi lagi, deh! Aku udah muak mendengarnya!” Aurel berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Lily.
    “Rel, kamu nggak boleh seperti ini terus. Aku tau, bahwa ini hidupmu dan kamu yang paling berhak mengaturnya. Tapi kamu mengaturnya sudah kelewat batas, Rel! Tentu sebagai sahabat, sudah seharusnya aku campur tangan. Aku hanya nggak ingin kamu menyesal disaat semuanya sudah terlambat!” kata Lily.
    “LEPAS!” pekik Aurel, menarik tangannya dari tangan Lily dengan kasar. “Lily! Aku tau kamu itu sahabat aku. Tapi, sahabat yang dulu aku kenal, bukanlah sahabat yang sok ngatur-ngatur aku seperti ini!” Aurel menatap Lily dengan tatapan membunuh.
    “Aurel! Kamu yang sebenarnya sudah berubah! Aurel yang dulu aku kenal, bukanlah Aurel yang suka pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Dia juga nggak pernah membantah seluruh pesan baik dari sahabatnya sendiri,” sanggah Lily.
    “Dulu, aku memang menuruti semua nasihat kamu, tapi sekarang aku udah muak, Li! Kalau kamu masih menginginkan Aurel yang dulu, sebaiknya kamu mencari sahabat yang baru aja, deh! Jangan cari aku lagi. Mulai detik ini, aku bukanlah sahabat kamu lagi!” kata Aurel, dingin. Ia segera masuk ke dalam mobilnya.
    “Aurel! Aurel!” Lily mengetuk-ngetuk kaca mobil Aurel.
   Tapi Aurel tak memedulikan panggilan Lily. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan langsung me-mindahkan persneling ke gigi 3, sebelum akhirnya ia sudah melaju kencang meninggalkan Lily yang ham-pir menangis.
    Melihat Aurel pergi, Lily segera berlari menuju motornya (yang merupakan hadiah ulang tahunnya dari Aurel), dan melesat mengikuti mobil Aurel.
    Lily mengikuti mobil Aurel, dengan pelan. Jalan raya yang lumayan lengang, memudahkan Lily untuk mengikuti mobil Aurel. Ia tak peduli apakah Aurel tau bahwa ia mengikutinya atau tidak. Yang penting, sekarang ia hanya ingin menuntaskan pertengkaran mereka hari ini juga. Tapi tampaknya Aurel tidak tau—atau mungkin sudah tau tapi tak memedulikannya, karena kecepatan laju mobil Aurel standar-standar saja. Karena, jika ia tidak tau—atau merasa kurang nyaman dengan Lily yang mengikutinya, ia akan mempercepat laju mobilnya, berusaha menghindar dari Lily.
    CIIITT! BRAK!
    Tiba-tiba—entah bagaimana kejadiannya, karena pikiran Lily tengah menerawang—Lily melihat Honda City milik Aurel menabrak tiang listrik di tepi jalan. Bagian depan mobil itu terlihat penyok dan berasap.
    Lily segera menepikan motornya di samping mobil Aurel yang menabrak tiang.
    Aurel keluar dari mobilnya dengan kening yang berdarah dan berjalan dengan limbung. Kepalanya te-rasa sangat pusing campur sakit karena menghantam setir mobil.
       “Aurel! Kamu nggak pa-pa?!” Lily berlari menghampiri Aurel dan memapah gadis itu untuk berjalan.
    Aurel mengerang pelan. “Ngapain kamu?! Sudahlah, jangan pedulikan aku. Emangnya kamu siapa, hah?”
    Lily tak menggubris erangan Aurel. “Aurel, kayaknya kamu harus periksa kepala kamu ke rumah sakit, deh. Jalan kamu udah sempoyongan gini,” Lily menyentuh kening Aurel yang penuh darah.
    “AAH!” Aurel menepis tangan Lily dengan kasar. “Sudah kubilang, jangan pedulikan aku lagi! Aku bukan sahabat kamu, Lily!” hardik Aurel, menatap Lily dengan tajam. Rasa sakit di kepalanya seolah hilang, berganti dengan gejolak emosi.
    “Aurel ...”
   “CUKUP! Sekarang, sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku, atau jangan ganggu ke-hidupan aku lagi! AKU BENCI SAMA KAMU, LI!” pekik Aurel. Ia berjalan limbung menyebrangi jalan, tanpa memedulikan sebuah pick-up hitam tengah melaju kencang ke arahnya.
    Lily terbelalak. “AUREL! AWAASS!” sorak Lily. Ia berlari ke arah Aurel dan mendorong tubuh gadis itu. Namun, Lily tak dapat berbuat apa-apa lagi, ketika menyadari bahwa mobil pick-up itu kini melaju kencang ke arahnya.
    Aurel yang terjatuh, membelalak melihat Lily yang kini menjadi sasaran mobil pick-up hitam tersebut. Ingin rasanya ia menolong Lily. Tapi, tubuhnya seolah tak mampu bergerak dan akhirnya ia hanya bisa melihat kejadian tersebut.
    BRUK!
    “LILY!”
***
Sudah hampir tiga hari Lily tergolek di ranjang rumah sakit. Kecelakaan yang dialaminya membuat dirinya koma dan tak sadarkan diri selama tiga hari.
    Kini, ia membuka matanya perlahan. Kesadaran telah mulai merayapi tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat, adalah seseorang yang tengah terlelap dalam keadaan duduk di sampingnya. Ia tersenyum.
    “Aurel ...?” panggil Lily, lemah.
    Aurel tersentak kaget mendengar suara Lily. Ia langsung terbangun, dan membelalak melihat Lily yang sudah sadar. “Lily! Kamu sudah sadar?!”
    Lily mengangguk lemah.
    “Lily, maafin aku, Li. Maafin aku!” sesal Aurel. Air matanya tumpah begitu mengingat prilakunya pada Lily selama ini.
   Hati Lily menghangat mendengarnya. Ia tersenyum dan mengangguk pelan. “Sepertinya hari sudah larut malam. Oh ya, kamu sendirian?”
    Aurel mengangguk. “Lily, kita sahabatan lagi ya, Li. Aku janji bakal berubah, Li. Aku janji, aku bakal berubah menjadi gadis yang baik. Aku janji!”
    Lily mengangguk. Ia terharu mendengar janji Aurel. Tiba-tiba, tatapan Lily jatuh pada sosok yang tengah memperhatikannya dari sudut ruangan. Senyum Lily pudar seketika.
    “Yasudah, sekarang kamu istirahat saja, ya. Kamu sudah tiga hari nggak sadar, Li!” kata Aurel.
    Lily mengalihkan pandangannya pada wajah Aurel. “Kamu juga.”
    “Ya!” angguk Aurel, lalu melipat kedua tangannya di tepi ranjang Lily, dan membenamkan wajahnya di atas lipatan tangannya tersebut.
    Begitu melihat Aurel tertidur, Lily menatap sosok yang berdiri di sudut ruangan tersebut. Lalu, ia kem-bali menatap Aurel. Ia mulai menyadari sesuatu.
    ‘Aurel ... aku akan menjadi sahabat kamu selamanya, Rel. Tapi maaf ..., sepertinya aku nggak bisa lagi menemani hari-hari kamu di sekolah, nggak bisa lagi membantumu mengerjakan tugas, nggak bisa lagi menasehatimu, dan nggak bisa lagi melihatmu berubah menjadi gadis yang baik. Maafkan aku, Aurel. Aku nggak sekuat yang kamu kira ....’ kata Lily, dalam hati. Ia berusaha menahan air matanya.
    Seberkas bayangan putih tiba-tiba meleburkan diri pada sosok yang sedari tadi menatap Lily dari sudut ruangan. Sosok bayangan putih tersebut kini mulai berjalan ke arah Lily yang menatapnya.
    Lily kembali mengalihkan pandangannya ke arah Aurel. ‘Selamat tinggal, Aurel ...’ ucap Lily, sebelum akhirnya ia tersenyum pada bayangan putih yang menghampirinya, lalu memejamkan matanya dengan perlahan, membuat air mata yang sedari tadi ia tahan, menetes di pipinya.
***
Aurel menangis tersedu-sedu menatap pusara di hadapannya. Tatapannya jatuh pada nama Lily yang ter-ukir pada batu nisan pusara tersebut.
    Jenazah Lily baru saja dikebumikan beberapa menit yang lalu. Kini, semua orang telah meninggalkan area pemakaman. Tinggal Aurel yang jatuh terduduk di samping pusara Lily.
    “Li! Lily ... hiks ... kenapa kamu harus pergi? Hiks ... kenapa kamu malah pergi? Hiks ...” tanya Aurel, pilu. Air mata berjatuhan dengan deras di pipinya. “Bukannya kita akan sahabatan lagi, Li? Tapi kenapa kamu malah ninggalin aku? Hiks ...” isak Aurel. Ia mengelus batu nisan pusara Lily dengan lembut.
    ‘Terima kasih sudah menyelamatkan aku waktu itu, Li. Tanpamu, mungkin aku sudah tiba di neraka saat ini. Aku memang penuh dosa, Li. Kamu-lah orang yang mampu membuatku berubah, seperti kamu membangkitkan semangat hidupku dulu. Kamu memang sahabat sejatiku, Li. Aku nggak akan pernah melupakanmu. Kamu sudah berhasil membuatku berubah seperti sekarang. Tapi maaf ..., perjuanganmu untuk membuatku berubah telah membuatmu mempertaruhkan nyawamu. Maafin aku, Li. Selamanya, kamu akan menjadi sahabat sejatiku ....’ batin Aurel.
    Setelah berdoa selama beberapa menit di samping kuburan Lily, Aurel mulai berdiri dengan tatapan yang masih melekat pada batu nisan kuburan Lily.
    ‘Selamat jalan, Lily ... kuharap kamu tenang di alam sana dan bertemu dengan kedua orangtuaku. Katakan pada mereka, aku akan berubah menjadi seorang gadis baik yang mereka harapkan ...’ kata Aurel, dalam hati.
    Ia hendak berjalan meninggalkan pusara Lily, ketika tatapannya beradu pada sebuah sosok yang berdiri di hadapan sebuah pohon besar—tak jauh dari tempatnya berdiri. Sosok yang tak lain adalah bayangan Lily itu tersenyum puas pada Aurel, sembari mengangkat kedua jempolnya.
    Aurel balas tersenyum dan dalam satu kerjapan mata, bayangan Lily telah hilang dari pandangannya. Aurel kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang, meninggalkan seseorang yang tengah tenang di-peluk bumi.


*The End*